Berita


ADB Siap Gandakan Pinjaman ke Indonesia

JAKARTA – Bank Pembangunan Asia (ADB) siap melipatgandakan nilai pinjaman ke Indonesia pada masa mendatang, di antaranya karena tak ada masalah pembayaran utang selama delapan tahun terakhir. “Akan kami lipat gandakan tiga atau empat kali,” ujar Direktur ADB Indonesia, Steven R. Labor, di kantornya kemarin.

Tahun ini lembaga donor itu menyiapkan utang baru sebesar US$ 1,5 miliar untuk Indonesia atau lebih tinggi dibanding nilai yang dikucurkan tahun lalu sebesar US$ 710 juta. Secara keseluruhan, Bank Indonesia mencatat utang dari lembaga tersebut terus menurun. Pada akhir tahun lalu, utang yang digelontorkan mencapai US$ 8,72 miliar atau turun ketimbang pada 2010 sebesar US$ 11,64 miliar.

Steven menjelaskan, Indonesia memiliki potensi besar, dari sumber daya alam, sumber daya manusia, pasar, hingga letak demografi yang menguntungkan. Hal-hal tersebut yang juga diperhatikan lembaga pinjaman multinasional lainnya dalam menawarkan utang. “Indonesia sangat prospektif, karena itu kami akan menyalurkan dana pinjaman.”

Lebih jauh, Steven mengungkapkan, dana pinjaman sebesar US$ 1 miliar itu akan digunakan untuk pembangunan berbagai proyek infrastruktur dasar, seperti sanitasi, agrikultur, perairan, dan jalan. Sedangkan untuk dana US$ 500 juta, sisanya akan diupayakan untuk dimasukkan ke buku hijau Bappenas. Dana itu berpotensi dirapel tahun depan atau sebagai dana pinjaman siaga seperti dana IMF.

Deputi Pendanaan Pembangunan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Wismana Adi Suryabrata, sebelumnya menyatakan sejumlah pendanaan dari utang luar negeri senilai US$ 38 miliar telah masuk Daftar Rencana Pinjaman atau Hibah Luar Negeri atau Blue Book periode 2015-2019. Sebagian besar pembiayaan tersebut untuk proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, seperti pembangunan waduk, jalan tol, dan irigasi.

“Kementerian PU dan Perumahan Rakyat lebih dari 50 persen, Kementerian Perhubungan sekitar US$ 5 miliar, serta PLN US$ 5 miliar,” kata Wismana pada akhir pekan lalu. Sebanyak US$ 35 miliar di antaranya akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Sedangkan sisanya untuk dukungan pendidikan, termasuk untuk pembangunan universitas.

Wismana mencontohkan, dari proyek 49 waduk yang akan dibangun pada pemerintahan ini, 10 bendungan di antaranya akan menggunakan pinjaman asing itu. Utang asing ini termasuk bagian dari pinjaman bilateral dan multilateral.

Pengamat ekonomi internasional dari CSIS Haryo Aswicahyo, meminta pemerintah memprioritaskan pinjaman domestik untuk menghindari adanya risiko nilai tukar mata uang. “Pinjaman dalam negeri digunakan untuk kegiatan dan investasi yang produktif,” ucapnya.

ANDI RUSLI | ALI HIDAYAT | SINGGIH SOARES

Kembali ke Berita

Berita Terkait

Sekarang Cek Proyek Infrastruktur Bisa Lewat Aplikasi Sarana Multi Infrastruktur Diminta Garap Daerah Tertinggal SMI Berfokus Pada Pembiayaan Infrastruktur Pariwisata Sri Mulyani Minta PT SMI Selektif Pilih Proyek yang Akan Didanai Setelah LRT Jabodebek, Ini Proyek Kerjasama Kemenhub dengan SMI