Berita


BPJS Naker Tertarik Tanam Modal Dalam Proyek Bandara Kertajati

Bisnis.com, BANDUNG – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan tertarik menanamkan modal dalam pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka.

Direktur Utama BPJS Naker Agus Santoso mengatakan pihaknya saat ini tengah mempelajari kemungkinan masuk membiayai pembangunan Bandara bekerja sama dengan BUMD PT BIJB.

Kerja sama ini dimungkinkan karena BPJS Naker siap berinvestasi di proyek infrastruktur. “Kami akan lihat skema dulu dengan BIJB,” katanya di Gedung Sate, Bandung, Jumat (2/9/2016).

Menurutnya, sejauh ini pihaknya sudah masuk membiayai infrastruktur baik langsung maupun tidak langsung. Agus mencatat sebanyak 47% dana kelola BPJS Naker digunakan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang di dalamnya dipakai untuk membiayai infrastruktur. “Yang langsung baru beberapa, saat ini kami terus kaji,” ujarnya.

Agus tak membantah informasi bahwa rencana membiayai pembangunan sisi darat BIJB akan menggandeng reksa dana. Menurutnya, saat ini proses kerja sama pembiayaan ini masih terus dikaji oleh pihaknya terutama terkait instrumen investasinya. “Untuk mendanai infrastruktur akan kita bicarakan lagi, kami analisa dulu,” tuturnya.

Dia mengakui untuk investasi langsung angkanya masih di bawah 5% hal ini terjadi karena keterbatasan instrumen investasi di Indonesia. Pihaknya mendorong agar pelaku pasar untuk menciptakan instrumen investasi yang menarik. “Kami siap masuk kalau itu sesuai dengan ketentuan BPJS Naker. Harus sesuai dengan prinsip investasi,” katanya.

Saat ini, dana terkumpul di BPJS Naker per Juli 2016 sudah mencapai Rp134 triliun. Menurutnya, ini akumulasi dana yang dikelola pihaknya. Agus memastikan selain menunggu instrumen investasi, pihaknya juga tengah melakukan harmonisasi sejumlah peraturan.

Direktur Utama PT BIJB Virda Dimas memastikan instrumen investasi yang akan ditawarkan ke BPJS Naker adalah reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) oleh Reksadana. Menurutnya skema ini sudah dibahas sangat mendalam pihaknya bersama Reksadana, BPJS Naker, PT Sarana Multi Infrastuktur (SMI) dan Taspen. “Pak Menteri juga sudah menyetujui skema ini,” katanya.

Strategi ini menurutnya berdasarkan pada skema pembiayaan sisi darat Kertajati yang 70% dibiayai ekuitas, dan 30% pinjaman sindikasi perbankan. Angka 70% ekuitas sendiri sebanyak 51% oleh Pemprov Jabar dan 49% RDPT. “RDPT ini ada tenornya sampai 5 tahun saja. Itu bisa diperjanjikan dari sekarang,” tuturnya.

Virda mengaku RDPT ini bisa diambil oleh BUMN karena kebutuhan pembiayaan dari ekuitas sekitar Rp1,47 triliun. Setelah 5 tahun, investasi ini bisa dibeli kembali oleh Pemprov Jabar ataupun institusi lain seperti operator bandara atau pihak lain. “Ini tinggal sedikit lagi. Pak Menteri sudah dilapori bilangnya good,” katanya.

Menurutnya, rencana ini diharapkan bisa mulus karena rencana Pusat membiayai BIJB Kertajati masih belum jelas. Terlebih ada pengetatan anggaran yang dilakukan Kementerian Keuangan pada sejumlah Kementerian dan Lembaga. “Kalau BUMN bisa didorong, ini akan menjadi sinergitas BUMN dan BUMD yang luar biasa,” tuturnya.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengaku sudah mendapatkan laporan bahwa proses pembiayaan sisi darat oleh BUMN diantaranya BPJS Naker semakin matang. Menurutnya pendekatan yang dilakukan PT BIJB terus dilakukan agar proyek ini terus berjalan.

“Pembicaraan sudah mulai dilakukan. Kami mendukung siapapun yang masuk, apalagi kalau dari dalam negeri. Agar pembangunan bandara ini bisa terus berjalan,” ujarnya.

 

Sumber

Kembali ke Berita

Berita Terkait

55 PPA Bakal Dapat Perhatian Khusus Request for Expressions of Interest: Consulting Services for Detailed Engineering Design (DED) of Road Improvement and Bridge Construction Project Sri Mulyani: Tol Trans Sumatera Berikan Banyak Dampak Positif Danai Tol Trans Sumatera, 7 Bank Kucurkan Rp 8 Triliun ke Hutama Karya Sindikasi 7 Bank & SMI Biaya Tol Trans-Sumatra Garapan Hutama Karya