Berita


Dilirik Sejak Zaman Kolonial, Proyek SPAM Umbulan Akhirnya Dapat Pembiayaan

Jakarta – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) hari ini menandatangani perjanjian pembiayaan sindikasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan, senilai Rp 840 miliar. Dalam Sindikasi ini, IIF menjadi mandated lead arranger dan bookrunner (MLAB) dengan pembiayaan Rp 550 miliar.

Dalam kesempatan ini, pemerintah pusat juga memberikan dukungannya terhadap proyek yang menelan investasi Rp 2,3 triliun ini melalui dukungan kelayakan proyek (Viability Gap Fund/VGF) Rp 818 miliar, dan juga memperoleh penjaminan dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII).

Penandatanganan perjanjian Sindikasi pembiayaan proyek SPAM Umbulan dilakukan oleh Direktur Utama PT SMI Emma, Sri Martini; Presiden Direktur IIF, Arisudono Soerono; dan Direktur Utama PT Meta Adhya Tirta Umbulan, Yasirin di Kantor Kementerian Perekonomian Jakarta, Jumat (30/12/2016).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, selaku Ketua Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) beserta Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo, turut hadir menyaksikan penandatanganan ini.

SPAM Umbulan adalah proyek pertama di sektor air yang mendapatkan Dukungan Pemerintah dalam bentuk Viability Gap Fund (VGF). Proyek ini sebenarnya telah direncanakan sejak 43 tahun yang lalu. Tapi baru pada 2010 ditetapkan Bappenas dan Kementerian Pekerjaan Umum sebagai salah satu showcase project dengan skema KPBU, dan benar-benar berjalan efektif perencanaan pengerjaannya sejak 2015 lalu.

“Walau ada rasa bangga, ada juga miris di hati. Republik Indonesia memang menginisiasi proyek ini sejak lama, walaupun di 2015 baru efektif. Tapi ternyata dari zaman kolonial ini sudah dilihat dari tahun 1917. Itu menunjukkan kita betapa lambatnya membangun infrastruktur,” kata Darmin dalam sambutannya di kantornya, Jakarta, Jumat (30/12/2016).

Darmin mengaku pemerintah sangat bersyukur akhirnya tercapai kesepakatan pembiayaan hari ini. Adanya kesepakatan pembiayaan ini membuktikan pemerintah dan badan usaha hari ini berhasil mempercepat pengerjaan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dilaksanakan dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) ini.

“Karena ini lambang kerja sama dan berhasil. Kalau sendiri-sendiri banyak yang bisa. Karena ini menyangkut pemerintah daerah di berbagai tingkatan. Tidak bisa kita hanya mengandalkan APBN dan APBD. Bagaimana pun kita bisa mengikutsertakan fungsi swasta melakukan pekerjaan, yang dari dulu kita anggap ini proyek yang sifatnya pelayanan dasar, tapi ternyata sekarang ini dia bisa,” tukas Darmin.

Seperti diketahui, proyek SPAM Umbulan dikategorikan oleh Komite Percepatan Infrastruktur Pengiriman (KPPIP) ke dalam daftar proyek strategis nasional, yang dipercepat melalui Peraturan Presiden No. 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, sehingga ditargetkan dapat beroperasi pada pertengahan 2019.

Proyek yang menelan investasi sekitar Rp 2,3 triliun ini, dikerjakan oleh PT Meta Adhya Tirta Umbulan yang merupakan konsorsium PT Medco Gas Indonesia dan PT Bangun Cipta Kontraktor.

Investasi proyek SPAM Umbulan bertujuan mengalirkan air curah dengan kapasitas produksi sebesar 4.000 liter air per detik dengan jaringan sistem transmisi dari mata air Umbulan ke lima Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Provinsi Jawa Timur, yaitu masing-masing PDAM Surabaya (1.000 liter per detik), PDAM Kabupaten Pasuruan (410 liter per detik), PDAM Kota Pasuruan (110 liter per detik), PDAM Kota Sidoarjo (1.200 liter per detik), dan PDAM Kota Gresik (1.000 per detik). Hal ini membuat SPAM Umbulan akan mengoperasikan jaringan pipa transmisi sepanjang 92.3 km melewati 16 titik pasokan.

Skema yang digunakan dalam proyek ini adalah Built Operate Transfer (BOT) dengan masa konsesi selama 25 tahun, meliputi pekerjaan desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, pembiayaan sarana pengelolaan dan iaringan transmisi.

Kualitas air Umbulan telah teruji dan layak sebagai air baku untuk air minum. Sumber air berada pada ketinggian 24 meter di atas permukaan laut. Penempatan titik-titik pasokan yang tidak lebih tinggi dari mata air utama diharapkan dapat membuat aliran air dari mata air utama dapat mengalir secara alami. Secara umum, jalur transmisi akan melewati jalan desa, jalan kabupaten, jalan nasional provinsi hingga jalan tol.

 

Source

Kembali ke Berita

Berita Terkait

PT Sarana Multi Infrastruktur Perluas Sektor yang Dibiayai Proyek Tol Bogor Outer Ring Road Dapat Pembiayaan SMI Rp660 Miliar Kunjungi Proyek Panas Bumi Sorik Marapi Sekarang Cek Proyek Infrastruktur Bisa Lewat Aplikasi Sarana Multi Infrastruktur Diminta Garap Daerah Tertinggal