Berita


Infrastruktur Telekomunikasi Menjadi Bidikan Perusahaan Pembiayaan

JAKARTA (IndoTelko) – Pembangunan infrastruktur telekomunikasi menjadi salah satu bidikan perusahaan pembiayaan PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) pada tahun ini.

“Kita akan fokus di delapan sektor untuk pembiayaan. Paling utama adalah sektor telekomunikasi, pembangkit tenaga listrik, dan jalan tol,” ungkap Presiden Direktur PT Indonesia Infrastructure Finance, Arisudono Soerono, belum lama ini.

PT Indonesia Infrastructure Finance dimiliki sebesar 30% oleh PT Sarana Multi Infrastruktur, sebesar 19,9% International Finance Corporation (IFC), sebesar 19,9% Asian Development Bank (ADB), sebesar 15,12% DEG-Deutsche Investitions, dan sebesar 14,9% dipegang Sumitomo Mitsui Banking Corporation.

Tahun ini, IIF menargetkan dapat melakukan pembiayaan proyek infrastruktur sebesar Rp10 triliun. Perusahaan menyediakan layanan pinjaman senior, subordinasi atau penyertaan modal ini memiliki portofolio hampir 20 proyek infrastruktur.

Perseroan baru saja menerbitkan obligasi senilai maksimal Rp2 triliun yang terbagi menjadi tiga seri dengan tenor 3-7 tahun. Obligasi IIF berperingkat AAA dari Ftich Rating ini terdiri dari tiga seri yakni seri A (tiga tahun), seri B (lima tahun) dan seri C (tujuh tahun). Bertindak sebagai penjamin emisi PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Vicker Securities dan PT Indopremier Securities. Masa penawaran awal (bookbuilding) pada 8-17 juni 2016, masa penawaran umum 1-14 Juli 2016 dan dicatatkan di Bursa Efek Indonsia (BEI) pada 20 Juli 2016.

Sekadar diketahui, Indonesia saat ini tengah menggeber pembangunan infrastruktur tak ketinggalan di sektor telkomunikasi untuk menunjang ekonomi digital.

Hasil riset yang dilakukan Temasek dan Google dengan judul e-conomy SEA: Unlocking the $200 billion digital opportunity in Southeast Asia, menyatakan nilai ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara bisa bernilai US$ 200 miliar pada 2020.

Tiga sektor yang akan menjadi peluang besar dalam ekonomi digital adalah eCommerce, online travel agent, dan Media.

Potensi ekonomi digital Asia Tenggara dianggap sangat besar sebab diperkirakan pertumbuhan pengguna internetnya diperkirakan akan mencapai 480 juta pengguna pada tahun 2020. Saat ini ada 260 juta pengguna telah online dan setiap bulannya tidak kurang dari 3,8 juta orang terkoneksi internet. Sekitar 70% populasinya berada pada usia muda yakni dibawah umur 40 tahun.

Bila melihat posisi Indonesia dalam hal populasi pengguna internet pada jangka waktu 2015-2020 nanti, Indonesia akan memimpin pertumbuhan pengguna dengan angka 19%. Dari 92 juta pengguna menjadi 215 juta pengguna, itu artinya lebih dari separuh populasi Indonesia akan sudah menggunakan internet.
eCommerce di Asia Tenggara diperkirakan akan mencapai nilai US$ 88 miliar di tahun 2025 dengan pasar yang mencapai US$ 5 miliar di seluruh regional. Indonesia sendiri dalam potensi pasar eCommerce akan jauh meninggalkan negara lain di Asia Tenggara dengan angka US$ 46 miliar.

Kemudian untuk sektor Online Travel, potensi Asia Tenggara mencapai US$ 90 miliar. Indonesia menempati potensi pasar terbesar pada tahun 2025 sebesar US$ 24,5 miliar dan US$ 5,6 miliar dari ridesharing. Di sektor Media diperkirakan akan mencapai US$ 20 miliar di Asia Tenggara dengan Indonesia berpotensi mencapai angka US$ 2,7 miliar.

 

Sumber

Kembali ke Berita

Berita Terkait

PT Sarana Multi Infrastruktur Perluas Sektor yang Dibiayai Proyek Tol Bogor Outer Ring Road Dapat Pembiayaan SMI Rp660 Miliar Kunjungi Proyek Panas Bumi Sorik Marapi Sekarang Cek Proyek Infrastruktur Bisa Lewat Aplikasi Sarana Multi Infrastruktur Diminta Garap Daerah Tertinggal