Berita


Pendanaan Kereta Ringan Rampung Tahun Ini

Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Emma Sri Martini, menargetkan pemenuhan pembiayaan atau financial close untuk proyek kereta ringan (light rail transit/LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) selesai akhir tahun ini.

“Kini, kami mengintensifkan pertemuan, koordinasi agar target financial close tahun ini bisa tercapai,”kata dia seusai rapat di kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman, kemarin.

Menurut Emma, perseroan dan perusahaan penggarap proyek LRT sedang melengkapi syarat-syarat, komitmen, serta peraturan yang berkaitan dengan skema pembiayaan.

“Syaratnya itu banyak banget yang harus dilengkapi. Peraturan-peraturan, komitmen, angka-angka, harus dicek dulu,” ucap dia. Pemerintah, kata Emma, juga menyiapkan regulasi dan struktur pendanaan secara bersamaan untuk proyek LRT. “Ini skema baru, aturan baru, bentuk konsesi baru.”

Ketika ditemui di tempat yang sama, Kepala Divisi LRT KAI, Ahmad Najib Tawangalun, mengatakan perusahaannya sudah mulai merekrut pegawai untuk trayek LRT Jabodebek. KAI membutuhkan 550 pegawai bagian operasional kereta ringan itu.

“Rencana pelatihannya juga sudah disiapkan, kata dia. Najib mengatakan KAI membuka lowongan untuk 200 calon masinis LRT. Untuk operator dan pegawai lainnya, KAI membutuhkan 350 orang. Perseroan, kata Najib, membuka perekrutan dalam acara bursa kerja di Jakarta International Expo Kemayoran, 25-26 Agustus lalu.

Proyek LRT Jabodebek yang berjalan sejak 9. September 2015 akan menghubungkan tiga rute, yakni Cibubur-Cawang sepanjang 14,5 kilometer, Bekasi Timur-Cawang 17,1 kilometer, dan Cawang-Dukuh Atas 10,5 kilometer.

Konstruksinya digarap oleh PT Adhi Karya (Persero), sedangkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI bertindak sebagai investor sekaligus operator kereta. Dana untuk proyek tersebut mencapai Rp 26,7 triliun, terdiri atas anggaran negara melalui penyertaan modal negara (PMN) dan sisanya dari kredit perbankan serta investasi.

Pemerintah pun mengusulkan tambahan PMN untuk KAI sebesar Rp 3,6 triliun. Permintaan tambahan PMN tersebut sesuai dengan surat yang disampaikan Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno pada 25 Agustus lalu.

Pemberian penyertaan modal rencananya dilakukan secara tunai. Usul PMN Rp 3,6 triliun tersebut telah dimasukkan ke nota keuangan, sehingga menjadi bagian dari Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018. Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat juga pernah membahas PMN untuk Adhi Karya senilai Rp 1,6 triliun.

Selain PMN, dana sebesar Rp 19,1 triliun akan dipenuhi dari pinjaman dan investasi. Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan investor asal Singapura dan CIMB Niaga berniat menyuntikkan dana untuk proyek LRT masing-masing sekitar Rp 2 triliun.

Direktur Utama Adhi Karya, Budi Harto, mengatakan progres pembangunan LRT Jabodebek tahap I sudah mencapai 20 persen saat ini. Ia menargetkan pada akhir tahun ini progres pembangunan kereta ringan itu bisa mencapai 4.5 persen.

Tahun depan pembangunan LRT difokuskan pada pemasangan sinyal, “Dan itu diperkirakan tak akan memakan waktu yang lama.”

Menurut Budi, sampai akhir tahun nanti KAI akan membayar Rp 8 triliun kepada Adhi Karya. Pada tahap pertama akan dibayarkan sebesar Rp 5 triliun. Sampai saat ini dana yang sudah terpakai oleh Adhi Karya sebesar Rp 4 triliun.

 

Koran Tempo - Pendanaan Kereta Ringan Rampung Tahun Ini

Kembali ke Berita

Berita Terkait

Dirut SMI Bakal Tegas Pecat Pegawai Penyebar Kebencian Kunjungi Proyek Panas Bumi Sorik Marapi Sekarang Cek Proyek Infrastruktur Bisa Lewat Aplikasi Sarana Multi Infrastruktur Diminta Garap Daerah Tertinggal SMI Berfokus Pada Pembiayaan Infrastruktur Pariwisata