Berita


Penumpang LRT Jabodebek Didorong Capai 500 Ribu Orang

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong jumlah penumpang light rail transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) mencapai 500.000 orang per tahun atau naik sekitar 85% dari perhitungan semula sebanyak 270.000 penumpang per tahun.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan, hal tersebut didorong dengan menerapkan sistem persinyalan moving block untuk LRT ini. Sistem moving block merupakan sistem persinyalan yang mengatur kedatangan antar-kereta di stasiun dihitung berdasarkan perhitungan waktu, bukan jarak.

‘Tadi kami bicara soal persinyalan, ada yang fixed block, ada yang moving block. Dengan moving block penumpangnya bisa mendekati 500.000 orang per tahun, sedangkan pakai fixed cuma 270.000 orang per tahun. Maka itu saya langsung setuju,” ujar Budi setelah rapat LRT di Kantor Kementerian Koordinator Kemar-itiman, Jakarta, Rabu (12/7).

Menurutnya, dengan sistem moving block kedatangan kereta ke stasiun bisa dipastikan lebih tepat waktu. “Kami ingin jarak antar-kereta atau headway itu lebih pendek, dari yang tadinya lima menit, jadi bisa satu menit,” jelas dia.

Namun, Budi menuturkan, teknologi tersebut akan memakan biaya senilai Rp 200-300 miliar dan berpotensi menambah beban kebutuhan dana pembangunan saat ini yang senilai Rp 21,7 triliun. “Nah ini ada kenaikan lagi biayanya, tapi ada kenaikan spesifikasi juga. Kami ingin headway-nya lebih pendek,” sebut Budi.

Dia menuturkan, pihaknya mendorong agar PT LEN Industri turut berpartisipasi menjadi penyedia teknologi moving block tersebut. “Kami mengarahkan LEN Industri sebagai local partner. Siapa pun yang menang, kami minta LEN sebagai local partner. Kami ingin LEN jadi perusahaan yang membangun persinyalan di Indonesia seperti Inka untuk kereta,” pungkas dia.

Direktur Operasi III Adhi Karya Pundjung Setya Brata mengatakan nilai total proyek akan mencapai sekitar Rp 22 triliun untuk sistem moving block. “Nama teknologinya moving block, tapi provider (penyedia) banyak. Nanti kami bicara lagi dengan LEN,” katanya.

Hingga saat ini progres pembangunan LRT Jabodebek hingga saat ini tercatat mencapai sekitar 17%. Sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian proyek LRT Jabodebek pada awal 2019. Sementara LRT Palembang ditargetkan rampung pertengahan 2018 guna mendukung Asian Games 2018.

Investasi Turun

Sebelumnya, Kemenhub menetapkan dana pembangunan prasarana LRT Jabodebek tahap I senilai Rp 21,7 triliun. Nilai tersebut mengalami penurunan sekitar 7% dari angka yang sebelumnya ditetapkan oleh PT Adhi Karya Tbk selaku kontraktor sebesar Rp 23,4 triliun.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Prasetyo Boedit-jahjono sempat menyatakan, nilai Rp 21,7 triliun itu sudah ditetapkan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan telah diajukan kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Adapun perubahan angka investasi itu dikarenakan adanya penyesuaian dengan biaya-biaya bahan dan jasa pembangunan yang berlaku saat ini. Selain itu, angka tersebut sudah termasuk pajak.

Setelah adanya penetapan angka itu, Prasetyo menambahkan, Kemenkeu melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) melakukan perhitungan terkait dengan skema pendanaan, bunga pinjaman, sampai dengan masa konsesi yang diberikan kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) selaku calon investor. Perhitungan itu didasarkan pada nilai investasi terbaru sebesar Rp 21,7 triliun.

“SMI minta waktu dua bulan untuk menghitung, mungkin sampai September. Nanti itu dijabarkan bagaimana pembayarannya, berapa bunganya, kemudian bagaimana bentuk legalnya, yang kontrak siapa saja. Antara KAI dan Adhi Karya sudah pasti kontrak, terus antara pemerintah dan KAI bagaimana?” ungkap Prasetyo.

Selain itu, Prasetyo mengungkapkan, PT KAI selaku calon investor pun menggandeng konsultan untuk menghitung besaran investasi yang sesuai. Tetapi, dia memperkirakan, hasil perhitungan konsultan PT KAI tidak akan jauh berbeda dengan perhitungan pihaknya karena didasarkan pada nilai yang sudah ditetapkan oleh Menteri Perhubungan.

Sementara itu, Direktur Utama PT SMI Emma Sri Martini mengatakan, saat ini PT Adhi Karya masih ditetapkan sebagai kontraktor LRT Jabodebek, sedangkan PT KAI sebagai calon investor dan operator moda transportasi tersebut. Akan tetapi, ke depan dimungkinkan untuk KAI dan Adhi Karya bekerja sama dalam mengoperasikan LRT itu.

“Nanti saat barangnya jadi, KAI yang akan melakukan operasinya. Dalam hal KAI mau beroperasi dan keija sama dengan Adhi Karya sangat dimungkinkan. Termasuk bantuan dari sisi equity atau dari segi Capital market-nya,” jelas Emma.

 

Investor Daily - Penumpang LRT Jabodebek Didorong Capai 500 Ribu Orang

Kembali ke Berita

Berita Terkait

55 PPA Bakal Dapat Perhatian Khusus Request for Expressions of Interest: Consulting Services for Detailed Engineering Design (DED) of Road Improvement and Bridge Construction Project Sri Mulyani: Tol Trans Sumatera Berikan Banyak Dampak Positif Danai Tol Trans Sumatera, 7 Bank Kucurkan Rp 8 Triliun ke Hutama Karya Sindikasi 7 Bank & SMI Biaya Tol Trans-Sumatra Garapan Hutama Karya