Berita


SMI-Bank Mandiri Biayai Produksi Kereta

JAKARTA – PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan PT Bank Mandiri (Persero) akan menyalurkan kredit sindikasi modal kerja Rp 1,69 triliun untuk PT Industri Kereta Api (INKA). INKA akan memakai dana tersebut guna membuat 438 unit kereta api untuk revitalisasi armada antarkota yang digunakan induk usahanya, PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Direktur Utama INKA, Agus H. Purnomo, mengatakan produksi 438 kereta eksekutif dan ekonomi tersebut merupakan tahap pertama dari proyek revitalisasi armada PT KAI. Dalam tahap berikutnya, INKA akan membuat lebih dari 500 kereta. “Total ada 1.000 armada yang harus direvitalisasi,” kata Agus di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, akhir pecan lalu. Menurut dia, 1.000 kereta antarkota harus diganti karena rata-rata usianya di atas 30 tahun.

Berdasarkan penugasan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan Kementerian Perhubungan, INKA akan merakit sekitar 30 kereta setiap bulan, setelah mendapatkan modal kerja dari Bank Mandiri dan SMI. Agus mengatakan pengantaran kereta akan dimulai pada Oktober mendatang. “Pada akhir 2018 akan selesai semua,” ujarnya. INKA berniat mendirikan pabrik di dekat pelabuhan untuk memotong ongkos angkut.

Dalam sindikasi pembiayaan kali ini, Bank Mandiri menyuntikkan dana Rp 1,19 triliun dan SMI memberikan Rp 500 miliar. Fasilitas modal kerja ini memiliki jangka waktu 20 bulan dan kedua kreditur menjadi Join Mandated Lead Arranger. Senior Executive Vice President Corporate Banking Bank Mandiri, Alexandra Askandar, mengatakan penyaluran kredit modal kerja ini merupakan wujud sinergi antar BUMN. “Kami harapkan kerja sama ini tak hanya memberikan keuntungan finansial, tapi berdampak juga pada pembangunan nasional,” katanya.

Selain produksi kereta, Bank Mandiri dan SMI akan terlibat dalam pembiayaan proyek kereta ringan (light rail transit) Jabodetabek. Direktur Utama SMI, Emma Sri Martini, mengatakan masih menanti hasil kajian rencana jaminan dari pemerintah sebelum memutuskan untuk menyalurkan pendanaan. “Perhitungan total biaya proyeknya kan masih kasar. Kami akan lihat, berapa modal dari negara yang disalurkan,” ucapnya. Emma juga masih menunggu kajian dari Kementerian Perhubungan mengenai tarif dan konsesi LRT. “Untuk sindikasi lebih dari Rp 2 triliun masih bisa,” katanya.

Saat ditemui di Jakarta Timur, dua pekan lalu, Direktur Utama Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmodjo mengatakan pembiayaan proyek LRT selayaknya dibagi empat. “Tiga bank pemerintah plus SMI,” ujarnya. Kartiko menambahkan, apabila struktur pembiayaan proyek didukung dengan jaminan pemerintah, perusahaannya tidak akan ragu menggandeng beberapa bank swasta untuk membiayai LRT Jakarta. Bank jangkar seperti Bank Mandiri bisa menyediakan dana hingga Rp 4 triliun.

Namun Kartiko belum mengungkapkan nilai bunga pinjaman, seandainya Bank Mandiri jadi membiayai proyek LRT Jabodetabek. Acuan bunga akan berdasar pada struktur penjaminan pemerintah dan Surat Berharga Negara terakhir. Proyek LRT Jabodebek melibatkan PT KAI sebagai investor proyek dan PT Adhi Karya (Persero) sebagai pembangun depo LRT.

Koran Tempo - SMI Bank Mandiri Biayai Produksi Kereta

Kembali ke Berita

Berita Terkait

Sekarang Cek Proyek Infrastruktur Bisa Lewat Aplikasi Sarana Multi Infrastruktur Diminta Garap Daerah Tertinggal SMI Berfokus Pada Pembiayaan Infrastruktur Pariwisata Sri Mulyani Minta PT SMI Selektif Pilih Proyek yang Akan Didanai Setelah LRT Jabodebek, Ini Proyek Kerjasama Kemenhub dengan SMI