Jumpa Pers


Penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerjasama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dengan Balai Besar Teknologi Energi-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (B2TE-BPPT) dan United

PRESS RELEASE
ACARA “ENERGY PARTNERS GATHERING” B2TE – BPPT 2013
Managing Energy for Better Future
Hotel Borobudur, Jakarta
4 Desember 2013

Pertumbuhan ekonomi sebagaimana tercantum dalam MP3EI memerlukan ketahanan energi yang menjamin terlaksananya pembangunan nasional. Oleh karena itu berbagai permasalahan dalam penyediaan dan pemanfaatan energi seperti, terbatasnya dan tingginya pemakaian sumber daya energi fosil, terbatasnya infrastruktur penyediaan energi, masih lemahnya industri nasional di sektor energi, belum optimalnya pemanfaatan energi baru dan terbarukan serta masih rendahnya tingkat efisiensi pemanfaatan energi nasional harus dirumuskan dan dan dicarikan solusinya dengan komprehensif.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang, sebagaimana tertuang dalam UU NO 17 tahun 2007, pemerintah telah mencanangkan visi pembangunan nasional tahun 2025 yaitu mewujudkan INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR.

Sumber energi tak terbarukan yang selama ini sebagai komponen utama dalam penyediaan energi nasional jumlahnya terus menipis sementara pemanfaatan sumber energi terbarukan belum optimal. Oleh karena itu perlu dilakukan perubahan yang mendasar terkait dengan paradigma pengelolaan energi, untuk menjamin ketersediaan energi untuk pembangunan jangka panjang ke depan. Yaitu pertama, adalah mengubah paradigma dalam memandang sumber daya energi dari sebagai komoditas menjadi sebagai modal pembangunan. Paradigma kedua adalah mengubah pola pengelolaan dari sisi suplai (supply side management) menjadi pola pengelolaan dari sisi kebutuhan (demand side management). Perubahan mendasar dalam paradigma pengelolaan energi seperti tersebut di atas memiliki implikasi baik pada tataran kebijakan maupun pada tataran implementasinya.

BPPT sebagai lembaga pemerintah non kementerian yang memiliki tugas dan wewenang melakukan pengkajian dan penerapan teknologi merasakan tanggung jawab yang sangat besar untuk menjadi pionir dalam tataran implementasi dari perubahan paradigma pengelolaan energi tersebut di atas.

Dalam konteks ini, BPPT melalui Balai Besar Teknologi Energi, memiliki program untuk menyusun rekomendasi dan memberi masukan baik kepada pemerintah maupun kepada pemangku kepentingan lainnya, terkait dengan teknologi apa saja yang harus dikembangkan dan diterapkan untuk mencapai target elastisitas energi tersebut. Ada lima fokus kegiatan guna mencapai tujuan tersebut, yaitu, Pengembangan dan Penerapan Teknologi Hemat Energi, Pengujian dan Standardisasi Efisiensi Energi, Pengembangan dan Penerapan Sistem Manajemen Energi, Wind Hybrid Power Generation (WHyPGen) serta Microturbine Cogeneration Technology) untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Proyek WHyPGen (Wind Hydrid Power Generation) yang digagas bersama BPPT dan UNDP Indonesia, pada tahun 2013 ini telah menjalankan serangkaian aktivitas untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) berbasis energi angin yang diparalel (hibrida) dengan sumber energi lainya, salah satunya adalah menyediakan dukungan dari segi pembiayaan. Direktur Utama UNDP Indonesia, Beate Trankmann mengatakan akses energi yang lebih luas membutuhkan investasi yang lebih besar dalam bidang energi terbarukan – sektor yang masih dianggap banyak pihak berisiko tinggi. Melalui inisiatif BPPT, UNDP mengambil langkah untuk mengurangi risiko investasi pada sektor energi terbarukan melalui pengembangan skema keuangan dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau “PT SMI”, BUMN Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur di bawah Kementerian Keuangan RI. Skema ini diharapkan dapat memberikan insentif bagi PT. SMI untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan yang ingin berinvestasi pada energi angin. Kami berharap solusi inovatif ini dapat menurunkan risiko pada sektor tersebut kemudian akan menarik banyak perusahaan untuk berinvestasi dalam bidang energi terbarukan ini.

Sementara itu Proyek MCTAP (Microturbine Cogeneration Technology Application Project) pada tahun 2013 ini menyelesaikan beberapa kajian terkait aplikasi teknologi gas turbin skala mikro (microturbine), dan teknologi kogenerasi.

Dalam rangka perencanaan efisiensi energi secara nasional, B2TE juga melakukan kajian dan penyusunan roadmap teknologi efisiensi energi. Roadmap ini disusun ke dalam sebuah buku Perencanaan Efisiensi dan Elastisitas Energi yang dilaunching pertama kali di tahun 2012, dengan fokus kajian waktu itu adalah pada sektor Rumah Tangga dan Industri Tekstil. Tahun ini, dilakukan kajian lebih mendalam pada sektor Industri Baja. Untuk itu telah dilakukan identifikasi terhadap teknologi efisien energi di industri baja dan dilakukan simulasi menggunakan perangkat lunak LEAP untuk menghitung dampak penerapan teknologi tersebut pada penghematan energi secara nasional. Dari hasil simulasi didapat potensi penghematan melalui penerapan berbagai teknologi efisien energi tersebut di sektor Industri Baja, sebesar 47 juta SBM atau setara dengan 31% dari penggunaan energi di Industri Baja untuk skenario BAU di tahun 2030. Penghematan tersebut mampu mengurangi emisi gas CO2 sebesar 9,77 juta ton atau setara dengan 20% dari skenario BAU di tahun 2030.

Panitia

Kembali ke Press Release

Press Release Terkait

Anggota Baru Direksi PT SMI pada tanggal 9 Juli 2018 PT SMI Mendukung Pembangunan Berkelanjutan melalui Penerbitan Green Bond Pertama di Indonesia Dewan Komisaris Baru PT SMI pada 5 Juni 2018 UOB Menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan PT SMI untuk Mendukung Berbagai Proyek Infrastruktur di Indonesia Komitmen PT SMI Mendukung Pembangunan Daerah yang Berkeadilan Dengan Menjunjung Tinggi Integritas dan Sikap Anti Korupsi