Press Release


Sintesa Group Konsisten Kembangkan Energi Ramah Lingkungan dan Terbarukan

signing-sindikasi-meppo-gen-02

Jakarta, 7 Desember 2016: Sejalan dengan program pemerintah yang mendorong pengembangan sektor energi ramah lingkungan, Sintesa Group secara konsisten turut mendukung program pemerintah tersebut dengan mengimplementasikan visi strategisnya melalui pengembangan energi listrik yang bersih (clean energy) dan ramah lingkungan, khususnya di kawasan Sumatera Selatan.

Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Gunung Megang di Muara Enim Sumatera Selatan dengan kapasitas 110 MW milik PT Meppogen, yang merupakan salah satu anak perusahaan dibawah bendera Sintesa Group, adalah wujud nyata dari komitmen Sintesa Group untuk turut aktif menyediakan energi listrik yang bersih dan ramah lingkungan.

Dalam mengembangkan rencana bisnis energi, Sintesa Group mendapat kepercayaan penuh dari pihak perbankan yang juga memiliki visi dan persepsi yang sama dalam mendukung bisnis energi bersih dan ramah lingkungan. Hari ini, melalui fasilitas pembiayaan sindikasi dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (“CIMB Niaga”) sebagai Mandated Lead Arranger dan Bookrunner, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (“PT SMI”), dan PT Indonesia Infrastructure Finance (“PT IIF”) sebagai Lead Arrangers – para pihak bersama mengucurkan dana sebesar US$ 145 juta atau sekitar Rp 1,9 triliun kepada PT Meppogen dalam rangka mendukung ekspansi PLTGU Gunung Megang dari 110 MW menjadi 150 MW. Dalam pembiayaan sindikasi ini, CIMB Niaga juga berperan sebagai agen fasilitas dan agen jaminan.

Menurut CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani, Sintesa Group mempunyai Visi 2020 yakni–a Towards Sustainable Excellent Company. Dari visi itu pihaknya mempunyai beberapa rencana strategis untuk pengembangan energi bersih yang ramah lingkungan dan energi terbarukan lainnya. Pengembangan lini usaha di bidang energi ramah lingkungan dilakukan melalui dua strategi utama yakni pertumbuhan organik dan anorganik. “Untuk ekspasi organik kami lakukan melalui penambahan kapasitas PLTGU Gunung Megang milik anak usaha Sintesa – PT Meppogen. Berawal dari PLTG Gunung Megang dengan kapasitas 80 MW kami telah meningkatkan kapasitasnya menjadi 110 MW melalui teknologi combined cycle system dan pada saat ini bermaksud untuk melanjutkan peningkatan kapasitasnya menjadi 150 MW”, jelas Shinta.

Shinta juga menambahkan, energi ramah lingkungan berupa energi bersih dan energi terbarukan penting untuk terus didorong investasinya. Hal ini juga sejalan dengan hasil dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Dunia Paris (UNFCC COP21) dimana Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada 2030 sebesar 29% atas upaya sendiri, dan hingga 41% dengan bantuan dan kerjasama internasional demi menjaga kenaikan suhu rata-rata bumi dibawah 2%.

Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Tigor M. Siahaan mengatakan, ”Peran aktif CIMB Niaga untuk membiayai proyek pembangkit listrik melalui pembiayaan sindikasi ini, merupakan wujud komitmen CIMB Niaga maupun unit usaha syariahnya (CIMB Niaga Syariah) dalam mendukung upaya pemerintah untuk pengembangan infrastruktur khususnya di sektor energi yang ramah lingkungan di Indonesia. Tentunya kami berharap agar masyarakat luas dapat memperoleh listrik untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mendorong kegiatan perekonomian.”

Selain fasilitas pembiayaan, lanjut Tigor, pihaknya juga menyediakan fasilitas perbankan lainnya kepada PT Meppo-gen seperti fasilitas trading, biz-channel, agency services, serta produk-produk FX dan hedging. “Kami menawarkan produk dan solusi bisnis yang inovatif untuk memberikan nilai tambah serta meningkatkan pelayanan terutama dari sisi peningkatan efisiensi pengelolaan keuangan PT Meppo-gen,” ujar Tigor.

VP Energy Sintesa Group Rosar Mamara menjelaskan, disamping peningkatan kapasitas pembangkit Sintesa Group juga berpartisipasi aktif dan selektif dalam mengikuti serta memenangkan tender-tender pembangkit listrik tenaga gas yang diselenggarakan oleh PLN sebagai rangkaian dari strategi pertumbuhan organik.

“Untuk strategi organik kita akan terus tumbuh secara konvensional melalui pembangkit listrik kami di Muara Enim serta partisipasi atas tender-tender proyek IPP untuk PLTG/PLTGU yang diadakan oleh PLN”, jelas Rosar.

Rosar menambahkan bahwa Sintesa Group saat ini fokus pada pengembangan energi bersih terlebih dahulu dan secara bertahap untuk langkah berikutnya akan masuk dalam pembangunan energi terbarukan (Renewable Energy). “Selanjutnya kami juga sedang dalam tahap pra-eksplorasi untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) dengan kapasitas 110 Megawatt di Banten sebagai bagian dari strategi mengembangkan pembangkit yang bersih, ramah lingkungan dan terbarukan”, tambahnya.

Peluang untuk terus mengembangkan energi ramah lingkungan saat ini sangat terbuka lebar. Rencana agresif Presiden Jokowi untuk menyediakan Energi listrik dengan total kapasitas 35.000 MW, jelas merupakan suatu peluang yang nyata. Meskipun dalam rencana tersebut porsi untuk pembangkit bersih, yang ramah lingkungan dan terbarukan hanya berkisar 25-30% dimana 70% lebih masih didominasi oleh pembangkit batu Bara (PLTU), namun untuk ke depannya kami sangat yakin bahwa kelak nanti pemerintah akan terus melakukan penyesuaian atau revisi untuk memperbesar porsi pebangkit yang bersih, ramah lingkungan dan terbarukan. Hal ini dapat dibuktikan dari sejarah pertumbuhan energi di negara-negara maju, dimana pada akhirnya Pemerintah akan menyadari bahwa sesungguhnya “hidden cost” dari pembangkit yang tidak ramah lingkungan jauh lebih besar dibanding biaya pembangkit yang bersih, ramah lingkungan dan terbarukan. Untuk itu menurut Rosar, Sintesa Group juga berencana untuk terus memperbesar lini energinya dan terbuka untuk berbagai pilihan. Disamping fokus dengan pertumbuhan organik untuk PLTG/PLTGU, kami juga mempertimbangkan jenis energi lain diantaranya Pembangkit Listrik Tenaga Bio Massa bersamaan dengan pertumbuhan anorganik melalui skema Merger dan Akuisisi atas pembangkit-pembangkit listrik lain yang sama-sama berbasis bersih, ramah lingkungan dan terbarukan.

Managing Director and Chief Investment Office PT IIF Harold Tjiptadjaja, mengatakan bahwa merupakan suatu kebanggaan bagi PT IIF untuk dapat berperan serta dalam sindikasi pembiayaan Sintesa Group ini. Hal tersebut sejalan dengan misi IIF yaitu menjadi katalisator dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia disamping misi lainnya yakni meningkatkan partisipasi swasta dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Dengan adanya penandatanganan perjanjian kerjasama ini, tentunya kami berharap adanya peningkatan peran swasta atas pembangunan infrastruktur.

Lebih lanjut Harold Tjiptadjaja mengatakan bahwa dalam pelaksanaannya, IIF juga menjamin pengerjaan proyek ini senantiasa dilakukan dalam prinsip prinsip berwawasan lingkungan, sehingga setiap proyek yang dibiayai oleh IIF dapat ikut bertanggung jawab atas kondisi sosial dan lingkungan yang ikut terdampak dari pembangunan infrastruktur tersebut. Hal ini juga diharapkan bisa menjadi benchmark atau acuan bagi perusahaan lainnya untuk termotivasi dalam membangun infrastruktur di Indonesia yang bertanggung jawab terhadap kondisi sosial dan lingkungan di sekitarnya.

Dari total sindikasi sebesar US$ 145 juta, PT SMI memberikan fasilitas sebesar USD 37,5 juta. Partisipasi PT SMI dalam pemberian fasilitas ini semakin memperkuat komitmen PT SMI sebagai katalis percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia, khususnya dalam mendukung kecukupan pasokan listrik bagi masyarakat. Komitmen ini telah tercermin dalam kegiatan pembiayaan PT SMI, dimana 53% pembiayaan PT SMI dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur di sektor energi di Indonesia.

“PT SMI mendukung penuh pengembangan infrastruktur di sektor ketenagalistrikan ini, dimana hal ini sejalan dengan prioritas Presiden Republik Indonesia dalam mewujudkan program 35.000 MW. Kami berharap produktifitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat dapat semakin meningkat dengan adanya tambahan suplai listrik yang dihasilkan oleh pembangkit ini nantinya, khususnya terhadap sekitar 133 juta jiwa warga Sumatera Selatan”, ujar Direktur Utama PT SMI Emma Sri Martini.

 

Tentang Sintesa Group
Group Sintesa merupakan konglomerasi usaha yang memiliki empat pilar bisnis yakni Property, Energy, Industry dan Consumer Product. Saat ini dibawah empat pilar bisnisnya, Sintesa Group memiliki 16 anak perusahaan, PT Meppogen adalah salah satu anak usaha Sintesa yang berada dibawah pilar Energy.

PT. Meppogen sebagai Independet Power Producer (IIP) dengan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) 2×40 MW, berlokasi di Kec. Gunung Mengang Muara Enim Sumatera Selatan dann mulai beroperasi atau Commercial Operation Date (COD) pada tanggal 10 November 2007. Energy listrik yang dihasilkan untuk pemenuhan kelistrikan di sistem Sumatera khsusnya Sumatera Selatan. Seiring dengan pengembangan usaha dan perkembangan teknologi, PT Meppogen melaksankan ekspansi menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) 110 MW yang memanfaatkan gas buang dari PLTG untuk menghasilkan uap di Heat Recovery Steam Generation (HRSG) sebagai penggerak Steam Turbin Henerator (STG). Proyek ekspansi ini mulai COD sejak tahun 2013.

Tentang CIMB Niaga
CIMB Niaga didirikan dengan nama Bank Niaga pada tahun 1955. Sekitar 92,5% saham CIMB Niaga (termasuk yang dimiliki oleh PT Commerce Kapital sebesar 1,02%) dimiliki oleh CIMB Group. CIMB Niaga menawarkan produk dan layanan perbankan lengkap, baik konvensional maupun syariah, melalui 697 jaringan kantor per 30 September 2016, yang terdiri dari jumlah kantor cabang sebanyak 528, Mikro Laju sebanyak 95, kantor kas dan payment point sebanyak 54 unit (termasuk 21 digital lounge), dan kas mobil sebanyak 20 unit. CIMB Niaga memiliki 13.069 karyawan per 30 September 2016.

CIMB Niaga mengajak masyarakat untuk bersama-sama tumbuh dan memanfaatkan potensi yang ada di kawasan Asia Tenggara, yang mana sesuai dengan brand positioning dari CIMB Group, “ASEAN For You”.

CIMB Group merupakan perusahaan penyedia jasa keuangan terbesar kedua di Malaysia sekaligus salah satu kelompok usaha perbankan universal terkemuka di ASEAN. Produk dan jasa yang ditawarkannya mencakup produk dan jasa perbankan konsumer, perbankan investasi, perbankan syariah, pengelolaan aset dan asuransi. CIMB Group berkantor pusat di Kuala Lumpur, dan beroperasi di 9 dari 10 negara anggota ASEAN (Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Kamboja, Brunei, Vietnam, Myanmar dan Laos). Selain di kawasan ASEAN, CIMB Group mendirikan pula kantor di China, Hong Kong, India, Sri Lanka, Taiwan, Amerika Serikat, Inggris, dan Korea. Saham CIMB Group tercatat di Bursa Malaysia melalui CIMB Group Holdings Berhad. Per 30 September 2016, kelompok usaha ini memiliki nilai kapitalisasi pasar yang mencapai USD10,1 miliar dan jumlah karyawan sekitar 40.000 orang yang tersebar di 16 negara.

Tentang PT Indonesia Infrastructure Finance
IIF adalah perusahaan swasta nasional berupa Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur yang didirikan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 100/PMK.010/2009 tentang Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur, yang dikelola secara profesional dengan fokus untuk berinvestasi pada proyek-proyek infrastruktur yang layak secara komersial. Pendirian IIF merupakan salah satu elemen penting di dalam pengembangan strategis oleh Pemerintah Indonesia bersama dengan mitra dari lembaga keuangan internasional untuk mengatasi hambatan arus investasi swasta di sektor infrastruktur. Sebagai badan usaha berorientasi komersial, IIF menyediakan produk fund based seperti pinjaman jangka panjang, produk non-fund based seperti penjaminan serta layanan lainnya yang berkaitan dengan proyek infrastruktur. IIF diharapkan akan berkembang menjadi repositori nasional dalam menggalang pengalaman dan keahlian yang berkaitan dengan pengembangan dan pembiayaan proyek-proyek infrastruktur yang layak, termasuk proyek-proyek yang berbasis Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS).
IIF didukung oleh Pemerintah dan Lembaga-Lembaga multilateral dunia yang tercermin dalam kepemilikan saham IIF, yakni Pemerintah Indonesia melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) bersama dengan Asian Development Bank (ADB), International Finance Corporation (IFC), Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft mbH (DEG) dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). Disamping itu IIF juga mendapat dukungan pinjaman dari Bank Dunia (World Bank) dan ADB.

Tentang PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (“PT SMI”)
PT SMI adalah BUMN di bawah koordinasi Kementerian Keuangan yang didirikan pada tahun 2009, dengan tugas utama menjadi Katalis dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Saat ini PT SMI menjalankan 3 (tiga) pilar bisnis yaitu Pembiayaan & Investasi, Jasa Konsultasi dan Jasa Pengembangan Proyek.

signing-sindikasi-meppo-gen-01 signing-sindikasi-meppo-gen-04 signing-sindikasi-meppo-gen-03

Informasi Lebih Lanjut dapat menghubungi:

Slamet Sudijono
Head of Marketing, Brand and Communications
PT Bank CIMB Niaga Tbk
Tel: +6221 2700555 ext. 77901
Website: www.cimbniaga.com

Faaris Pranawa
Plt. Corporate Secretary
PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)
Tel: +6221 8082 5288
Fax: +6221 8082 5258
Email: corporatesecretary@ptsmi.co.id

 

Download Press Release

Back to List Press Release

Related Press Release

Launching SGD Indonesia One, Ministry of Finance Supports Achievement of Sustainable Development Goals in Indonesia RSUD Konawe; Joint Commitment of Stakeholders Realizing the Positive Impact of Regional Infrastructure Development for Communities New Member of PT SMI Board of Directors on July 9, 2018 PT SMI Supports Sustainable Development by Issuing the First Green Bond in Indonesia New Board of Commissioners of PT SMI on June 5, 2018